Selasa, 06 November 2012

Tokoh Pekabaran Injil


JOSEPH KAM
https://encrypted-tbn3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTeF5JFblh_1v4BMWJcrpESEFYtGVdmj5O2Kc__G9ztjmh68zFxJoseph Kam adalah seorang pekabar Injil yang memberikan darah segar kepada tubuh para jemaat di Maluku yang ditinggalkan terlantar sesudah bubarnya VOC di Indonesia pada tahun 1799. Oleh jemaat- jemaat di Maluku, Kam diberi gelar Rasul Maluku.
Kam dilahirkan pada September 1769. Ayahnya bernama Joost Kam, seorang tukang pangkas rambut, pembuat rambut palsu, dan pedagang kulit di s´Hertogembosch, Belanda. Kakeknya berasal dari Swiss, Peter Kam, namanya. Ia datang ke Belanda sebagai tentara sewaan dan di Belanda menikah dengan seorang gadis Belanda.
Keluarga Kam adalah anggota gereja Hervormd yang setia, tetapi suasana rumah tangga mereka dipengaruhi oleh semangat pietisme Herrnhut. Mereka mempunyai hubungan dengan kelompok Herrnhut di Zeist. Joseph Kam sering mengunjungi kelompok ini sehingga ia sangat dipengaruhi olehnya.
Setelah Kam menyelesaikan pendidikan rendahnya, ia tidak melanjutkan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi. Ia membantu ayahnya dalam usaha perdagangan kulit. Dalam usaha perdagangan kulit inilah, Kam sering mengunjungi Zeist. Akibatnya adalah timbulnya keinginan yang kuat dalam diri Kam untuk memberitakan Injil kepada orang kafir. Namun, keinginannya itu ditahannya bertahun-tahun karena orangtuanya tidak rela untuk melepaskannya. Orangtuanya menginginkan agar Joseph tetap membantu usaha perdagangan kulit itu karena kakaknya, Samuel Kam, sudah menjadi pendeta di Berkel.
Pada tahun 1802 ayah dan ibunya meninggal. Usaha perdagangan kulit merosot, dan pada akhirnya kegiatannya dihentikan. Joseph mencari pekerjaan lain, yaitu menjadi pesuruh pada Mahkamah Nasional. Pada tahun 1804 Joseph menikah, namun istrinya itu meninggal pada waktu melahirkan anaknya yang pertama. Beberapa bulan kemudian, anaknya meninggal juga.
Sekarang tekadnya untuk menjadi pekabar Injil sudah bulat. Ia melamar ke NZG pada tahun 1807. Ia mempersiapkan diri untuk menjadi pekabar Injil di Denhaag dan Rotterdam pada beberapa orang pendeta. NZG belum memiliki sekolah pekabar Injil sendiri. Pada tahun 1811, pendidikan persiapannya dianggap selesai, namun Joseph belum dapat diberangkatkan sehubungan dengan keadaan perang yang masih berkecamuk. Belanda pada masa ini menjadi negara satelit Perancis, sehingga ia terseret dalam peperangan dengan Inggris. Indonesia sendiri dirampas oleh Inggris dari Belanda.
Berhubung Kam belum dapat diberangkatkan, maka NZG meminta kepada kelompok Herrnhut di Zeist untuk memakai tenaga Kam untuk sementara waktu. Di sinilah Kam mendapat latihan yang sangat berguna bagi pekerjaannya kelak di Maluku.
Sementara itu, NZG berusaha mencari jalan untuk menyelundupkan Kam ke Inggris. Berkat kerjasama dengan LMS (London Missionary Society), Kam dapat dikirimkan ke Indonesia. Namun, LMS harus mengujinya sekali lagi, dan ternyata Kam lulus dalam ujian tersebut, sehingga ia tidak lagi diharuskan menempuh pendidikan di London. Pada tahun 1813, Kam ditahbiskan menjadi pendeta di London. Pentahbisan jabatan pendeta merupakan tindakan yang sangat bijaksana karena dengannya, Kam dapat melayani sakramen di Indonesia. Pada tahun 1814, diusia yang ke-33, Kam menuju Maluku, bersama-sama dengan Bruckner dan Supper. Sambil menunggu kapal ke Maluku, Kam bekerja untuk sementara waktu di Gereja Protestan Surabaya. Di gereja tersebut, ia membentuk satu kelompok kecil: Orang-orang Saleh Surabaya. Kelompok ini sangat giat dalam pekerjaan pemberitaan Injil.
Pada tahun 1815, Kam meninggalkan Surabaya dan pergi ke Ambon. Pada bulan Maret 1815, Kam tiba di Maluku. Ia memulai pekerjaannya untuk menghidupkan kekristenan di Ambon yang menyedihkan itu karena sudah terlalu lama diterlantarkan. Ia mengadakan kunjungan-kunjungan ke jemaat-jemaat di Ambon, Haruku, Seram selatan, dan Saparua. Dalam kunjungan itu ia berkhotbah, membaptiskan orang, melayani Perjamuan Kudus, memperdamaikan pertengkaran-pertengkaran yang terjadi.
Pada tahun yang sama, Kam melangsungkan pernikahannya dengan seorang gadis Indo-Belanda, Sarah Timmerman, yang dengan setia mendampinginya dalam pekerjaannya di Maluku.
Kunjungan diadakan terus-menerus di seluruh kepulauan Maluku, bahkan sampai ke Minahasa, Sangir Talaud dan ke Timor. Perjalanan- perjalanan ini sangat melelahkannya, namun semangatnya untuk bekerja bagi Tuhan, menghiburnya. Jemaat-jemaat ini dikuatkan dan dihidupkan oleh pelayanan yang tak kenal lelah oleh Joseph Kam.
Berhubungan dengan beratnya pekerjaan, maka Kam segera meminta tenaga pekabar Injil dari NZG, segera setelah Indonesia diserahkan kembali kepada Belanda. Sekarang setelah tenaga-tenaga baru berdatangan, maka Ambon menjadi pusat untuk Indonesia Timur. Semua pekabar Injil untuk Indonesia Timur harus melewati Ambon. Kini Kam bersama istrinya bertindak sebagai pembimbing dari tenaga-tenaga baru ini. Sarah mengajarkan bahasa Melayu dan sementara itu, Kam membawa mereka kepada jemaat-jemaat supaya mereka mengenal pekerjaan secara langsung.
Kam terus saja mengadakan perjalanan keliling mengunjungi jemaat- jemaat sampai akhir hidupnya. Kam menderita sakit payah dalam perjalanannya ke Maluku Tenggara, sehingga ia terpaksa kembali ke Ambon. Segala usaha untuk menyelamatkan jiwanya tidak berhasil. Joseph Kam meninggal pada tanggal 18 Juli 1833 setelah berjerih payah selama 20 tahun di Maluku.
Kam dikenang sebagai Rasul Maluku sebagaimana ditulis di atas batu nisannya di Ambon. Banyak terdapat dongeng mengenai kuasa doa-doa Kam di Maluku.
JOHN RELEIGH MOTT
https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSqywjBG2dwASssn9OcpeZ1M05sckA5bwMpYsscR12RSGxB14F6Mott adalah seorang tokoh besar dalam kegiatan penginjilan di kalangan mahasiswa di berbagai universitas di Amerika Serikat pada akhir abad ke-19 dan permulaan abad ke-20. Ia juga dikenal sebagai seorang tokoh pergerakan oikumene di dunia yang tiada tandingnya.
Mott dilahirkan pada tanggal 25 Mei 1865 di Postville, Iowa, USA. Ayahnya bernama John Stitt Mott dan ibunya bernama Elmira Dogde. Ayah John Mott bekerja sebagai pedagang kayu dan John Mott biasa membantu ayahnya dalam usaha tersebut. Pada umur 13 tahun John mengalami pertobatan dan ia menggabungkan diri dalam Gereja Metodis.
Pada tahun 1881 Mott belajar pada Upper Iowa University selama 4 tahun. Sekolah ini adalah milik Gereja Metodis sehingga proses belajar-mengajarnya diwarnai oleh kekristenan. Setelah itu Mott melanjutkan studinya ke Universitas Cornell. Di sinilah Mott memulai kegiatan pekabaran Injil. Sebenarnya Mott ke Cornell agar ia dapat bekerja pada pekerjaan duniawi atau meneruskan usaha ayahnya. Di Cornell ia segera terpilih menjadi wakil ketua Young Men Christian Association (YMCA) Cabang Cornell. Dia giat memberitakan Injil di kalangan mahasiswa dan memimpin kebaktian di penjara-penjara. Pada tahun 1888 ia menyelesaikan studinya di Cornell.
Sebenarnya Mott sudah tertarik kepada pekerjaan penginjilan sejak ia di Fayette. Pada waktu dibukanya cabang YMCA, Mott sudah melibatkan diri dalam organisasi oikumenis ini. Kemudian ia pindah ke Cornell guna belajar ilmu hukum agar kelak dapat bekerja di lapangan politik. Ia memulai studinya di Cornell tahun 1885. Di Cornell, Mott bergumul tentang cita-citanya dengan panggilan Allah. Pada akhirnya ia tunduk kepada panggilan Allah. Lalu dia bersahabat dengan D.L. Moody.
Pada musim panas YMCA mengadakan konferensi mahasiswa internasional dimana D.L. Moody menjadi ketua konferensinya. Mott menghadiri konferensi ini sebagai wakil dari Cornell. Dalam konferensi ini Mott memutuskan untuk menjadi seorang penginjil bersama dengan 100 mahasiswa lainnya. Inilah permulaan lahirnya Student Volunteer Movement for Foreign Missions (Gerakan Mahasiswa Sukarela untuk Pekabaran Injil ke Luar Negeri).
Tahun 1886 Mott menjadi ketua Student Christian Movement di Cornell. Ia bekerja keras untuk menjalankan kegiatan-kegiatan gerakan ini di Cornell. Dari sinilah Mott belajar untuk mengumpulkan mahasiswa dari berbagai denominasi. Sejak semula ia telah berniat untuk mengusahakan kerjasama antara semua gereja. Ia berkata: "Kita harus awas! Jangan kita menyangka bahwa gereja kita sendiri adalah satu- satunya gereja. Kita harus selalu menghormati semua cabang dari gereja yang Kudus dan am."
Setelah tamat dari Cornell, Mott segera menjadi sekretaris YMCA USA dan Kanada. Ia sekarang mengunjungi seluruh universitas dan perguruan tinggi di Amerika Serikat dan Kanada. Ia juga menjadi ketua dari Student Volunteer Movement for Foreign Missions. Pekerjaannya makin hari makin berat.
Tahun 1891 Mott ke Amsterdam untuk menghadiri konferensi YMCA se- Dunia. Sekarang ia terdorong untuk membentuk suatu federasi dari seluruh gerakan mahasiswa Kristen se dunia. Ia berkali-kali berkunjung ke Eropa sambil mengutarakan rencana tersebut. Rencananya itu akhirnya berhasil, yaitu dengan terbentuknya Federasi Mahasiswa Kristen se Dunia. Ia sendiri terpilih sebagai sekretarisnya. Sebagai sekretaris umum, maka ia mengunjungi banyak negara di dunia.
Mott juga menjadi Ketua Komisi Persiapan untuk Konferensi Pekabaran Injil se Dunia di Edinburgh tahun 1910. Mott adalah pemikir utama dalam konferensi itu serta banyak memimpin persidangan. Setelah itu konferensi bubar, maka dibentuklah Komisi Penerus (Continuation Committee) yang diketuai oleh Mott hingga tahun 1920. Tokoh Mott tidak dapat dilepaskan dari Dewan Pekabaran Injil International (International Missionary Council) yang dibentuk pada tahun 1920. Mott menjadi ketua Dewan ini hingga tahun 1942. Dalam kedudukannya sebagai Ketua Dewan Pekabaran Injil ini, ia mendorong agar di tiap negara dibentuk Dewan Pekabaran Injil Nasional.
Selama Perang Dunia I (1914-1918) Mott bersama anggota YMCA melayani pemuda-pemuda yang masuk tentara serta melayani para tawanan perang. Karena pekerjaan pelayanannya selama Perang Dunia I, maka pemerintah Amerika Serikat menghadiahkan kepadanya medali kehormatan. Pada tahun 1948 Mott adalah salah seorang pemenang Hadiah Nobel untuk perdamaian.
Pada waktu dibentuknya Dewan Gereja-gereja se Dunia, di Amsterdam 1948, Mott diangkat sebagai Ketua Kehormatan. Hal ini adalah patut dilakukan mengingat akan jasa dan peranannya dalam pergerakan oikumene dan pekabaran Injil di dunia. Jabatan ini dipegangnya hingga ia meninggal dunia pada 31 Januari 1955.
Dalam sejarah pergerakan oikumene di Indonesia nama Mott perlu dicatat pula. John Mott mengunjungi Indonesia pada tahun 1926. Di sini ia memberikan rangsangan yang sangat berarti bagi kegiatan Gerakan Mahasiswa Kristen di Hindia Belanda. Organisasi-organisasi seperti YMCA, kemudian GMKI dan DGI dengan Komisi Pekabaran Injilnya berakar dari pekerjaan John R. Mott.
Walaupun John R. Mott hanya tercatat sebagai seorang anggota gereja biasa yang tidak belajar teologia secara formal, namun dia sangat berjasa bagi gereja di dunia. Ia seorang yang selalu optimis dan dinamis. Semboyannya yang terkenal adalah:
"Biarlah mereka maju. Tahun-tahun yang terbaik masih di hadapan kita."

William Carey - Tokoh Pekabaran Injil Modern
http://2.bp.blogspot.com/-n3J6db3vGkk/UCt1i_7kJ9I/AAAAAAAAAE4/OJ8rHdsyX_A/s1600/William+Carey+-+Tokoh+Pekabaran+Injil+Modern.jpeg
Carey dilahirkan dari sebuah keluarga miskin di
Paulerspury, Northamptonshire, Inggris pada tahun1761. Orangtuanya bekerja sebagai pegawai klerikel rendahan, anggota Gereja Anglikan. Tahun 1779 Carey mengalami pertobatan, yaitu ketika berusia 18 tahun. Ia lalu masuk ke Gereja Baptis, menjadi pengkhotbah dan guru sekolah pada siang hari, sedang malam harinya ia bekerja sebagai tukang sepatu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
Carey adalah tipe orang yang suka belajar keras dan tak kenal menyerah dalam menghadapi tantangan. Ia belajar sendiri bahasa Yunani, Ibrani, Belanda dan Perancis hingga menguasainya dengan baik. Sebagai hamba Tuhan yang sudah mengalami pembaharuan, Carey memiliki perhatian yang kuat pada kegiatan penginjilan.

Tahun 1792 Carey menjadi penggerak terbentuknya lembaga pekabaran yang diberi nama Baptis Missionary Society (Lembaga Pekabaran Injil Baptis) di Nottingham. Ia mencetuskan suatu semboyan terkenal, “Mengharapkan perkara-perkara besar dari Allah dan mengusahakan perkara-perkara besar bagi Allah”. Bagi Carey, amanat agung yang diberikan Yesus adalah mengabarkan Injil bagi segala mahluk, dan setiap orang Kristen harus menjadi pemberita kabar baik.

Ia menjadi pendeta di Kapel Gereja Baptis di Moulton tahun 1786. Lalu Lembaga Pekabaran Injil Baptis mengirimnya sebagai misionaris yang pertama ke India pada tahun 1792. Bersama dengan keluarganya ia berangkat ke India menumpang kapal barang dan tiba di Malda, sebagai pusat kegiatan pekabaran Injilnya yang pertama. Namun kemudian perusahaan East India Company melarang Carey memberitakan Injil disitu sehingga ia bekerja pada sebuah perkebunan nila sambil belajar bahasa setempat. Setelah 5 tahun, ia berhasil mempelajari bahasa Bengali dengan baik dan mulai menterjemahkan kitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa tersebut. Di tahun 1799, perkebunan nila tempat Carey bekerja bangkrut, dan hal ini mengharuskannya pindah ke Serampore, daerah koloni Denmark.

Di tempat baru ini Carey bergabung dengan dua orang pekabar Injil Gereja Baptis yang lain, yaitu Joshua Marshman dan William Ward. Mereka bertiga lalu dikenal dengan sebutan “Trio Serampore”. Dengan bantuan kedua teman Inggrisnya ini, Carey berhasil menerbitkan terjemahan Perjanjian Baru dalam bahasa Bengali. Pada tahun 1801, ia membuka sekolah yang diberi nama “Fort William College” untuk mendidik orang pribumi India menjadi pendeta. “Hanya dengan pemberita kaum setempat, kita bisa berharap negeri yang luas ini mendengar kabar baik,” katanya dengan yakin. Carey berpendapat bahwa Lembaga Pekabaran Injil harus segera mendidik orang pribumi untuk menjadi pemberita Injil bagi bangsanya sendiri. Di sekolah tersebut Carey mengajar bahasa Sansekerta, Bengali dan Marathi kurang lebih 30 tahun.

Selain itu Carey juga aktif menghimpun dana untuk membiayai penelitian di dunia pertanian. Upaya ini dilakukan dalam usahanya untuk memikirkan masalah pangan di negeri dimana Tuhan mengutusnya. Kegiatannya yang lain adalah menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Bengali dan bahasa-bahasa lainnya, menyusun tata bahasa dan Kamus Bahasa Sansekerta, Marathi, Punyab dan Telugu.

Selain dikenal sebagai bapa pekabaran Injil, Carey juga dikenal sebagai tokoh oikumenis. Dialah yang mencetuskan ide agar setiap 10 tahun diadakan konferensi bersama dari seluruh Lembaga Pekabaran Injil di Tanjung Harapan. Ide ini belum terwujud semasa hidupnya, tetapi baru tercapai pada tahun 1910 di Edinburg. Pengertian oikumene dalam pengertian modern adalah berasal darinya. William Carey akhirnya meninggal dunia tahun 1834 dalam usia 73 tahun. Pada masa pemerintahan Inggris di Indonesia, orang-orang Kristen di tanah Maluku turut merasakan pekerjaan dan pelayanan anak dari William Carey, yaitu Yabez Carey.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar